Iklan
Program WASH di Desa Wonokerto Lumajang, 508 KK Dapat Akses Air Bersih Lewat Pipanisasi
Lumajang, Wisatapuncaksrege.com — YBM BRILiaN SBO Malang meluncurkan Program WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) di Desa Wonokerto, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, pada Jumat (9/10). Program ini ditujukan untuk membantu mengatasi keterbatasan akses air bersih yang masih dihadapi masyarakat di sejumlah dusun melalui pembangunan jaringan pipanisasi.
Berdasarkan hasil asesmen, beberapa dusun di Desa Wonokerto masih mengalami kekeringan dan membutuhkan dukungan infrastruktur air bersih. Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan Program WASH sebagai upaya mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mendorong akses air bersih yang lebih baik dan berkelanjutan.
508 KK, 1.660 Jiwa di Tiga Dusun
Melalui pembangunan jaringan pipanisasi, program ini menyasar 508 kepala keluarga atau sekitar 1.660 jiwa yang tersebar di tiga dusun. Penerima manfaat tersebut meliputi Dusun Wonoasih sebanyak 223 kepala keluarga atau 720 jiwa, Dusun Wonosari sebanyak 137 kepala keluarga atau 452 jiwa, serta Dusun Wonayuh sebanyak 148 kepala keluarga atau 488 jiwa.
Angka itu memberi gambaran tentang skala kebutuhan yang ingin dijawab. Air bersih bukan sekadar kebutuhan rumah tangga. Ia menyentuh kesehatan, kebersihan, aktivitas anak sekolah, hingga produktivitas warga. Ketika akses air sulit, beban terbesar biasanya dirasakan perempuan dan anak-anak yang sering menjadi pihak utama dalam mengurus kebutuhan air keluarga.
Mayang Diantami: Manfaat Jangka Panjang
Ketua Pengurus YBM BRILiaN SBO Malang, Mayang Diantami, menyampaikan bahwa Program WASH merupakan salah satu upaya untuk membantu masyarakat memperoleh akses air bersih yang lebih memadai.
“Melalui Program WASH ini, kami berharap pembangunan jaringan pipanisasi dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Desa Wonokerto secara lebih baik dan berkelanjutan. Kami juga berharap program ini memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung kehidupan yang lebih sehat dan meningkatkan kesejahteraan warga,” ujar Mayang Diantami.
Pernyataan itu menempatkan air bersih bukan hanya sebagai infrastruktur, tetapi sebagai fondasi kehidupan sehat. Akses air yang memadai memungkinkan warga menjaga kebersihan diri, lingkungan, dan pangan. Dalam jangka panjang, kualitas hidup pun ikut terdorong.
Peluncuran Dihadiri Pemerintah Daerah dan Warga
Peluncuran program ini turut dihadiri Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Lumajang, Bayu Ruswantoro, perwakilan Camat Gucialit, Kepala Desa Wonokerto, serta masyarakat setempat.
Kehadiran pemerintah daerah menunjukkan bahwa program ini tidak berjalan sendiri. Dukungan lintas pihak diperlukan agar pembangunan jaringan air bersih tidak berhenti pada seremoni peluncuran, tetapi berlanjut pada perawatan dan pemanfaatan yang berkelanjutan.
Sinergi YBM BRILiaN, BRI Lumajang, dan Masyarakat
Dalam pelaksanaannya, Program WASH didukung oleh sinergi YBM BRILiaN SBO Malang, pemerintah setempat, BRI Branch Office Lumajang, dan masyarakat Desa Wonokerto. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program sekaligus menjaga keberlanjutan manfaat pembangunan jaringan air bersih bagi masyarakat di wilayah sasaran.
Kolaborasi semacam ini penting karena infrastruktur air bukan hanya soal membangun pipa dan jaringan. Ia menyangkut pemeliharaan, kesiapan warga, dan dukungan kelembagaan. Tanpa perawatan, jaringan yang dibangun bisa cepat rusak. Tanpa pelibatan warga, manfaatnya bisa tidak merata.
Mengapa Program WASH Relevan
Air bersih adalah kebutuhan dasar yang seharusnya tersedia bagi semua warga. Namun, di sejumlah wilayah, kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur membuat akses air menjadi persoalan yang berulang, terutama saat musim kering.
Program WASH mencoba menjawab persoalan itu melalui pendekatan infrastruktur: membangun jaringan pipanisasi agar air dapat menjangkau permukiman warga. Jika berjalan baik, jaringan ini bisa mengurangi beban warga dalam mencari air, terutama pada periode kekeringan.
Namun, publik perlu menunggu informasi lebih lanjut mengenai kapasitas sumber air, cakupan jaringan, dan mekanisme perawatan. Sebab, keberhasilan program tidak diukur dari peluncuran, tetapi dari apakah air benar-benar mengalir dan manfaatnya dirasakan warga secara berkelanjutan.
Yang Perlu Ditunggu Publik
Publik perlu menunggu beberapa hal. Pertama, rincian teknis jaringan pipanisasi yang dibangun. Kedua, sumber air yang dimanfaatkan dan kapasitasnya. Ketiga, jadwal penyelesaian dan mulai beroperasinya jaringan. Keempat, mekanisme perawatan bersama warga dan pemerintah desa. Kelima, laporan manfaat yang dirasakan penerima di tiga dusun.
Stef
Artikel Terkait
Iklan
Iklan
Kolaborasi BRI dan PWI Tulungagung, 250 Paket Sembako Disalurkan ke Kampung Pemulung
Iklan
Agung Waluyo: Healthy Shopping Festival Jadi Ruang Promosi UMKM Kota Malang
Iklan
Isra M. Kosasih: BRI Tidak Boleh Meminta, Menerima, maupun Menahan Agunan KUR di Bawah Rp100 Juta
Iklan